jump to navigation

Berkah Puasa September 21, 2007

Posted by wednesmandra in Bogi banget.
trackback

Saat itu, saya sedang pulang sekolah. Saya membawa tas plastik berisi bakal seragam sekolah. Sekitar pukul 12-an, panasee… PoLLL.. Nah saya bersama teman sejalur bus, namanya Dio. Saat kami berjalan menuju perempatan untuk menunggu bus, tas saya langsung digajul (ditendang) oleh teman lain yang jahil. Kebetulan dia naik sepeda motor. Dengan gayanya, dia hanya senyum-senyum gitu. Wah.. mau mbales nggajul gak bisa, lha dia naik motor gimana mau ngejar?? trus mau misuh-misuh juga jadi inget ini bulan puasa. nanti ndak malah ngurangin pahala. Wahh.. ya saya tahan saja. Tapi tentu tetap senyum.

Nunggu bus saja butuh kesabaran teknik tinggi. Saya dan Dio di sebelah utara jalan, mau naik jalur 9, tapi gak lewat-lewat. Eh ya dah nyebrang dulu. Coba naik jalur 7. Sampai seberang, malah jalur 9 lewat. dan jalur 7 gantian gak lewat-lewat. Sabar..

Sampai terminal giwangan, biasanya nunggu bus menuju Pleret laaammmmaaaa sekali. Saya sempat berpikiran, Kalau begini mending batal saja puasanya. Untunglah hari itu tidak begitu lama. Alhamdulillah. Menuju Pleret. Memang menurut saya Puasa tahun ini lebih mudah dijalani dibandingkan puasa tahu-tahun yang lalu. entah mengapa, apa karena memang tahun ini tahun penuh berkah bagi umat islam. Bus berjalan dengan sangat lambat ketika keluar terminal.

Saya pernah menuliskan keluhan saya di bangku belakang bus. Keluhan kepada sang sopir tentunya. Saya tuliskan begini “Sopir Lemot”. He he.. saya memang anak jahil. Tapi kan itu kenyataan. Hawa yang panas membuat kerongkongan ini perlu pendingin. Sampai di Banjar Dadap penumpang bertambah banyak dan sesak. dengan keringat membasahi kening, dan membuat badan serasa mandi keringat, saya tabahkan hati ini. Hampir sampai Pertigaan Ponogaran, saya turun.

Bareng seorang nenek yang juga turun di pertigaan tersebut. Kebetulan saya disuruh membukakan pintu depan di mana nenek itu duduk. Kami sempat bercakap sebentar. “le.. lha omahmu ngendi??”. Lalu saya jawab “Kulo Demangan riku mbah…”. Nenek gantian bertanya “Putrane sopo yo?”. “Pak hendro” jawab saya. “ooo anake si sri kuwi tha??” tanya simbah. “Nggih mbah..”jawab saya. Hehe ternyata orangtua saya cukup dikenal masyarakat. Saya juga sempat menanyakan rumah simbah itu. dan ternyata masih jauh ke timur.

Berjalan ke timur, menuju rumah saya. Ada Ibu-ibu mau menawarkan boncengan ke saya. Dia kira sayaini anak SMP 3 Banguntapan. wajarlah, lha wong saya masih pakai atribut SMP, padahal kan sudah SMA. Saya menolaknya dengan sopan. Masa’ rumah tinggal dekat mau ngrepotin orang. Selanjutnya saya disapa cewek cantik yang saya juga gak akrab sama dia. Wahh.. berkah puasa. Ternyata kalau kita sabar, pasti ada balasan yang baik dari Allah SWT.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: