jump to navigation

“titipan” atau rejeki ? November 3, 2007

Posted by vetamandra in Diri Sendiri, Veta banget.
trackback

waktu pulang kemarin Mbak-e bilang “Dek, onten titipan saking Mbak Eni”, kata mbak-e pada jeung. Saya pun sudah bisa menduga-duga saat mbak-e mengeluarkan amplop “Pasti uang”.Dan benar, saat Jeung membuka amplop nyembul uang merah seratusribuan.

 Cerita sebelumnya Mbak Eni adalah paramedis dari Mbok-e, Nah, anak MBak Eni yaitu Erwin
yang baru masuk SMA tahun ini minta hadiah sepeda motor, PIlihannya pun jatuh ke yamaha vixion. Nggak
boleh yang lain, walaupun telah dibujuk sedemikian rupa. Jeung yang mendengar ini–padahal dari
dulu jeung membujuk Mbak eni supaya Erwin beli motor suzuki aja, lha jelas wong jeung kerja di Suzuki–berinisiatif
membantu, karena kerja di dealer motor, kenalan tentang semua yang berbau motor pun banyak, mulai dari
supervisor, surveyor, collector dari leasing leasing. Karena mbak Eni berencana membeli Cash, jeung
langsung memberikan masukkan kalau beli cash itu lama (dealer tidak terlalu untung kalau cash)
ditawari bagaimana kalau kredit dengan uang muka yang besar dan dilunasi pada cicilan pertama atau kedua.
Sehingga proses mendapatkan motor bisa cepat. Dasar orang yang beruntung, oas jeung lagi nyariin vixion
pas ada orang yang membatalkan inden, sehingga inden Mbak Eni cuma 1 bulan. Dan kemarin Kamis
motor telah dikirim ke rumah.

Mulai bingung (terutama jeung, kalau saya sih terima saja :P). “Gimana Yah? diterima nggak?” belum dijawab jeung telpon Mbok-e. Nggak tahu ngomong apa? terus udah ada keputusan bahwa “titipan” itu dibalikkin. Alasan–hasil menelpon tadi–dibalikkin adalah:

  1.  Mbak Eni udah dianggep sedulur sendiri
  2.  Mbak Eni udah sering direpotin oleh kami
  3.  Mbak Eni sering memberi kami banyak hal

Lalu jeung telpon Mbak Eni dan bla..bla…bla Mabk ENi mau menerima keputusan kami untuk Mbalikkin “titipan” itu.

Jeung ikhlas membantu Mbak Eni. Definisi Ikhlas menurut saya adalah melakukan sesuatu hal tanpa mengharapkan imbalan.
Lagipula masalah imbal-mengimbal udah urusan yang di Atas. Pak-e pernah bilang kalau kita membantu orang lain, bukan orang itu yang
akan membalas perbuatan kita, bisa ada *alah repot*, gini contohnya kata-kata pak-e misal A membantu B, bukan B yang akan
membalas kebaikan A, mungkin C, atau D, atau siapapun. Dan mungkin membalasnya tidak langsung ke A, bisa ke anak cucu A.
Kejahatan juga begitu, bisa dianalogikan dengan cara yang sama.

Terus bagaimana dengan menolak rejeki, misal saya anggap “titipan” itu adalah rejeki, berarti jeung udah menolak rejeki dong?
Saya terus terang bingung. Jadi saya anggap aja “titipan” itu bukan rejeki hehe

Iklan

Komentar»

1. abah oryza - November 3, 2007

kayaknya tergantung dech, klo lagi perlu itu berarti titipan rezeki, klo lagi ada dan nggak terlalu membutuhkan yah iitu

=========================================================================================
saya perlu dan membutuhkan 😀 , tapi sepertinya istri nggak

2. Andri Setiawan - November 3, 2007

Rejeki adalah sesuatu yang kita nikmati, kalau ndak kita nikmati, ya artinya bukan rejeki kita 😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: