jump to navigation

Sekolah Uwong Edan? November 12, 2007

Posted by vetamandra in Kuliah, Veta banget.
trackback

Karena tugas kuliah Perkembangan Anak dan Remaja Khusus, Hari ini saya dan teman-teman tentunya mengunjungi SLB 3 Yogyakarta di Jl. Wates. Rencana semula, target kunjungan adalah di Yakkum Jl. Kaliurang KM. 14, namun karena ada kebijakan dari yakkum untuk tidak menerima kunjungan samapi bulan Desember, maka target dialihkan ke SLB 3 Yogyakarta.

Seperti yang telah kita ketahui SLB, kepanjangannya adalah Sekolah Luar Biasa, dan saya definisikan, sebagai tempat sekolah anak-anak yang mempunyai kebutuhan yang luar biasa atau berkebutuhan khusus. SLB diklasifikasikan menjadi 5, A, B, C, D, E. jangan disuruh nyebutin A itu apa B itu apa, Yang saya tahu C untuk Mental Retarded, dan D untuk Cacat fisik atau tuna daksa. Entah kenapa di bagian D yang kami kunjungi tadi kebanyakan anaknya Double Handicap, alias tunanya double, cacat fisik dan cacat mental. Kenapa eh kenapa? menurut bapak guru yang saya tadi wawancarai, dari bagian C hanya menerima yang cacat mental saja, jika cacat mental dan fisik langsung disalurkan ke bagian D.

Tugas yang diberikan oleh ibu dosen adalah mewawancara, antara lain si Anak penderita cacat, dan significant other dalam hal ini adalah Guru. Sebelumnya telah diadakan undian dan saya kebagian mewawancarai guru.padahal kepinginnya observasi saja.

wawancara

Saya mewawancarai Pak J (sebut saja begitu) seorang guru matematika, dia baru 2 tahun mengajar di SLB, sebelumnya dia mengajar di sekolah umum sejak tahun 1996, Pak J adalah lulusan dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (kami sering menyingkatnya Sarwi). Sudah mempunyai istri.

Menurut beliau, di dalam SLB bagian D dibagi menjadi dua yaitu D dan D1, D untuk mereka yang mempunyai kemampuan kognisi yang lebih baik daripada D1. . Kemampuan kognisi disini bukan hanya terlihat dari kejelasan berbicara. Kebanyakan dari mereka bicaranya kurang jelas (karena mental retarded), tetapi kemampuan kognitifnya malah lebih daripada mereka yang bicaranya jelas. Kurikulum untuk D dan D1 pun berbeda, untuk D mengikuti sekolah umum (how come?) untuk D1 atas kretifitas guru dalam menyusunnya. Yang membedakan dengan kurikulum di sekolah biasa CMIIW (Culek Me If I’m Wrong) ada pelajaran Ketertiban Diri (?), di pelajaran tersebut anak luar biasa diajari mengurus dirinya sendiri, mulai dari memakai baju, mengancingkan baju, menyisir rambut. Satu lagi yang membedakan adalah usia, Usia anak-anak luar biasa lebih tua daripada teman-teman mereka di sekolah umum. ada yang lahir tahun 1982 masih kelas 2 SMALB.

Di SLB bagian D, murid tidak diajari ketrampilan khusus yang akan membuat mereka mandiri jika lulus nantinya. Hanya diajari ketrampilan biasa seperti membuat hiasan dari kulit telur, menggambar dan menempel, mewarnai. Lulusan dari SLB bagian D mempunyai kelebihan bahwa mereka telah sekolah itu saja.

Sebelum pemberian materi dalam pelajaran, Pak J memberi assesmen terlebih dahulu, misal untuk pelajaran deret hitung, dia memberikan assesment berupa pertambahan, dan hal lain yang berhubungan. Assessment ini bertujuan untuk mengetahui sampai dimana kemampuan muridnya. Karena, di SLB Individual Differences sangat dihormati, mereka yang mempunyai kemampuan kognitif yang lebih akan diberikan pelajaran/mengerjakan soal lebih banyak dari pada mereka yang tidak.

Evaluasi belajar sama seperti sekolah lainnya, ada UTS, UAS dan UNAS, untuk soal UTS danUAS Pak J membuat sendiri soalnya, beberapa rekan guru Pak J ada yang membeli soal di SMP depan SLB, dan bahkan ada yang tanpa dimodifikasi, Anak Luar Biasa dihadapkan dengan soal-soal ujian Anak Biasa. Bentuk soal adalah check point, kenapa? karena kalau isian nulisnya susah. Untuk kenaikan kelas, jika murid sudah dinilai mampu maka mereka naik ke kelas selanjutnya, jika tidak, misal sebelumnya kelas 7, terus jadi kelas 7b, hanya sampai b, setelah rampung di kelas b otomatis naik ke kelas berikutnya.

Hambatan yang dialami pak J dalam mengajar adalah, kadang kala omongan yang diucapkan oleh anak didiknya tidak jelas didengar, tetapi hal ini bisa diatasi dengan bantuan penerjemahan dari anak didik yang lain. Selain itu guru- guru mengajar di beberapa kelas karena keterbatasan guru. Ini merupakan sebuah peluang bagi mereka yang ingin mencari kerja . Masuklah! jurusan luar biasa di IKIP (sekarang UNY), peluang kerja masih terbuka banyak. Sekain itu Pak J mengkhawatirkan akan tumpulnya ilmu yang selama ini dimilikinya, karena jarang digunakan. Untuk mengatasinya, setiap sore dia memberikan Les bagi murid normal.

Pak J mengisahkan saat-saat awal bagi seorang guru luar biasa adalah waktu untuk beradaptasi. Adaptasi dengan murid (karena Pak J bukan dari jurusan Luar Biasa), kadangkala seorang murid mengekspresikan kegembiraannya berbeda dengan orang pada umumnya, dengan menggebrak-gebrak meja misalnya.jujur saya kaget tadi. Selain itu adaptasi terhadap bau, katanya murid-murid disana pada bau. tadi takkira itu bau saya jeh :). dan banyak guru-guru yang pada awalnya muntah-muntah (apalagi guru yang perempuan). tapi lama kelamaan mereka terbiasa.

Pak J juga bercerita bahwa sebagian banyak masyarakat khususnya yang berada di lingkungannya masih memandang SLB sebagai sekolahnya orang edan (miring basa jawanya). Tapi perlahan-lahan dia menjelaskan bahwa SLB itu begini, begini, sampai akhirnya mereka mengetahui dan mampu merubah pandangan mereka tentang SLB.

Berminat kerja di SLB?

Jika murid ingin kebelakang, untuk murid yang bisa berjalan mereka sudah bisa melakukan sendiri, sedang untuk murid yang memakai kursi roda biasanya mereka dibantu oleh orangtua yang menunggui mereka, bila tidak ditunggui, teman-teman mereka yang akan membantu.

dsc00303.jpg    dsc00304.jpg dsc00307.jpgdsc00308.jpg

Iklan

Komentar»

1. Andri Setiawan - November 13, 2007

veta mau jadi guru?

istriku kan juga psikolog, tapi kmrn2 pekerjaannya lebih ke arah psikologi klinis, nangani orang stress yang gara2 stresnya fisiknya pada jadi sakit
* nek gak salah, psikosomatis namanya * 😀

2. vetamandra - November 14, 2007

@andri: wah tidak mas, dari awal saya sadar saya gak cocok di psikologi saya pengin kerja di luar psikologi 🙂

3. Niefha - November 16, 2007

Hm..ini toh mas hasil wawancaranya?

4. vetamandra - November 16, 2007

hooh, pokoknya yang mulai wawancara ke bawah itu hasil wawancaranya

5. HIPHOP - Januari 16, 2009

SEKOLA??

TEMAN??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: