jump to navigation

Introduction November 13, 2007

Posted by wednesmandra in The Demangan Story.
trackback

Lalala…. Habis nonton Happy Tree Friends. Kartun yang ngeri, sadis dan menggemaskan karena karakternya yang berupa boneka hewan. kalau dilihat sih bukan untuk anak anak.

Tapi Saya tidak ingin membicarakan itu. Cuman sekedar info saja. Ini mengenai pikiran saya yang sering saya jadikan selayaknya teori-teori (halah.. sok ilmiah wed..). Saya ini tinggal di dusun. Sebuah dusun yang biasa saja, selayaknya perpecahan antar suku. Satu dusun saja tidak bersatu. Antar RT tidak menunjukkan kekompakannya. Egois semua. Contohnya saja, mengapa tidak ada organisasi satu dusun yang membahas tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan saat 17-an misalnya, atau pengajian syawalan yang menyatukan satu dusun dan tidak secara terpisah-pisah.

Dulu Saya saat pertama kali mengenal apa itu sosialisasi masyarakat, saat Gempa 27 Mei menolong saya, (karena saat itu kehidupan dan peran saya dalam masyarakat jadi meningkat) Saya sangat senang dengan semua ini, banyak teman, kehidupan tenteram, wah asyik. Saat itu juga saya semakin aktif di kampung. Tapi itu tidak bertahan lama setelah saya melihat banyak kebohongan dan kepalsuan yang ada dalam masyarakat. Ada-ada saja yang terjadi, mulai dari bantuan logistik saat gempa yang egois-egoisan. Tetangga sebelah saya sendiri malah. Jadi saat semua kebingungan mencari bantuan setelah gempa dan semua rumah ambruk, Bapak Sayalah yang begitu giatnya merakit alat komunikasi, dan segera mencari bantuan sana-sini. Keren si bapak tuch.. (seharusnya warga kampung membuat penghargaan buat Beliau). Bantuan pun datang, dan sudah disepakati bahwa semua bantuan yang datang itu dilaporkan ke pos pusat yang di situ Bapak saya kelola.

Tapi, suatu ketika tetangga saya (sebut saja pak NDKO) itu dengan seenaknya melanggar kesepakatan dan ingin melahap bantuan yang datang untuk dirinya itu sendirian. Tanpa lapor, rusuhlah semua ini. huh. Sebenarnya apa yang ada di benaqk si NDKO tadi?. Mengapa musti egois?. Terus ketika saya mengenal teman pertama saya di Dusun Demangan, Jambidan, Banguntapan, Bantul ini, tiba-tiba saja mereka egois dan malah memilih menjauh dan menggilai cewek-cewek gitu (seneng MbajuL maksude).

Aneh ahh.. apakah pikiran orang-orang sedangkal ini? Tanpa memikirkan apa itu kebersamaan. Yah mungkin sebagian orang yang mbaca tulisan saya ini bilang “Lha wong kowe urip neng ndeso kok yo mas..” hehe. Ya mungkin karena itu.

to be continued…

Iklan

Komentar»

1. Andri Setiawan - November 13, 2007

di satu sisi, kebersamaan masyarakat desa ini menjadi kekuatan dibanding orang kota yang egois (gak kenal tetangga samping rumah),

tapi kadang juga jadi “molo” jika tidak bisa bergaul dengan cara yang pas …

2. snydez - November 14, 2007

napsu mengalahkan hati 😦

3. Miftah - November 14, 2007

hhmmm gak di kota gak di desa, gak di komplek gak di perkampungan pasti ada ‘culprit’ seperti itu… 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: