jump to navigation

catatan jumat malam Januari 12, 2008

Posted by vetamandra in Veta banget.
Tags: ,
trackback

” Yah kok pengganti supernatular-nya nggak mulai-mulai?” tanya Ebel saat Blade yang dijanjikan akan tayang jam 8.30 malam belum dimulai. TV7 menampilkan gambar rumah sakit dan seorang reporternya.

” Itu lagi dipakai siaran Bel” kata saya

“Siaran apa Yah” tanya Ebel

” Laporan dari rumah sakit” kata saya, kemudian saya coba mengalihkan perhatian Ebel dengan hal-hal lain.  Akhirnya Ebel kembali mainan robot-robotan, sambi menunggu pengganti supernatular mulai.

Entah mau ngomong apa lagi kalau Ebel terus-terusan bertanya. “Yang sakit siapa?” ” Kenapa semua channel Tv kok sama?”. Pada dasarnya, ya terserah mau sakit, mau mati. Bukan urusan saya. Meskipun berjasa besar, tetapi sekarang yang susah siapa? Nggak terbayang kalau dia tidak mundur. Mungkin seumur hidup keluarga kami akan selalu ketakutan, masih teringat saat terdengar suara mobil berhenti di dekat rumah Pak-e selalu mengintip dari gorden jendela, takut kalau dia akan dibawa pergi. Setiap ada orang yang mengetuk pintu, jantung ini selalu berdegup kencang. Apakah pak-e akan dijemput? Ketakutan-ketakutan selalu hadir dalam kehidupan kami, ketakutan itu surut saat dia mengundurkan diri. Sebetulnya jika Pak-e diculik atau menghilang, jujur saya akan merasa bangga.

Kemarin bogi pengen banget menjadi aktivis, dia bilang pada saya ” Ayo mas, mas veta kan mahasiswa to”. Dilain kesempatan saya bilang ” Akbar tandjung mbiyen yo aktivis lo le”

Melihat Bogi, saya teringat saya sendiri. Waktu itu saya kelas 6 SD, saat pemerintahan saat itu tidak mengakui kepemimpinan PDI Megawati, dalam hati saya (waktu itu masih berpikiran hitam ya hitam, putih ya putih) kok jadi kayak gini. Bukankah Mega itu benar. Kenapa kok dibubarkan ? Pertanyaan-pertanyaan yang selalu timbul di dalam hati. Hati ini ingin berontak, memperjuangkan kebenaran. Tapi apa yang bisa dilakukan anak kelas 6 SD saat itu?

Berita tentang sakitnya dia menggantikan berita bencana-bencana alam, belum lagi kalau mati. Pasti semua Tv akan penuh dengan sejarah singkat, kesuksesan dan bla bla bla lainnya. Di jalur yang dilewati bengawan solo sana masih banyak saudara kita yang baru saja dilanda bencana alam. Lebih penting mana, 1 orang atau ribuan orang.

Apakah kita bangsa yang pelupa? Bahkan untuk membeli tempe saja sekarang sulit.

mau dibawa kemana kita?

Iklan

Komentar»

1. snydez - Januari 14, 2008

bangsa kita juga terlalu permisif.

btw, ebel umur berapa? emang boleh nonton pelem series kaya blade?.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: