jump to navigation

Menapakkan Kaki di Bronggang November 17, 2010

Posted by wednesmandra in Kuliah, Lingkungan, Yogyakarta.
trackback

Selasa, 16 November 2010, sebuah hari yang tidak begitu luar biasa tetapi menjadi hari yang memberikan kenangan bagi saya. Hari itu saya merayakan Idul Adha, walau hari resmi versi pemerintah ditetapkan tanggal 17 November, saya tidak tau mengapa saya merayakan hari itu, saya ikut emak saya 😀 hahaha

Saya (Wednes) diajak Pak-e saya pergi jalan jalan (walau sebenarnya ada kuliah masuk pagi) tetapi saya memilih untuk kuliah di luar bersama Pak-e. Come on, everything is knowledge, belajar tak hanya di dalam ruang kelas dan mengikuti adat istiadat formal yang turun temurun. Oke spot pertama kami lakukan di Kepatihan untuk menghadiri undangan agar turut serta menjadi saksi penyerahan bantuan sejumlah 2000 radio transistor bagi pengungsi bencana merapi. Bantuan ini diprakarsai oleh Wilmar Foundation yang bekerja sama dengan KPID Yogyakarta. Bantuan ini secara resmi diserahkan kepada Sri Sultan, akan tetapi saat itu Bapak Sri Sultan berhalangan hadir jadi diwakili oleh perwakilannya. Bantuan berupa 2000 radio transistor ini bertujuan agar para korban bencana merapi mendapatkan info yang tidak menyesatkan, semangat mereka tergugah, dan mereka terhibur karena akan disertakan beberapa acara hiburan. Tanggal 14 November 2010 juga telah diluncurkan Radio Tanggap Merapi untuk menyiarkan perkembangan situasi Gunung Merapi. Sebenarnya betul juga kata Pak-e, peluncuran Radio Tanggap Merapi ini lumayan telat, karena akankah lebih baik jika diudarakan sejak status merapi dinyatakan membahayakan, karena media radio seperti ini cukup berguna untuk memberikan info dan mengajak warga ke tempat yang aman dari ancaman awan panas serta luncuran lahar.

Kunjungan selanjutnya adalah ke Stadion Maguwoharjo (walau sebelumnya telah melewati beberapa tempat  posko terkait bencana merapi), Pengungsi di Maguwo nampaknya telah berkurang, beberapa warga telah kembali ke rumahnya, saat itu saya mendengar suara afgan menyanyi, saya kita ada artis menghibur para anak kecil yang mengungsi, eh setelah saya tengok ternyata dia berbaju camo tentara dan berpangkat kopral, dalam benak saya terpikir, mungkin dia dulu bercita cita jadi penyanyi tetapi dilarang oleh orang tuanya, suruh masuk militer, Cita cita terlarang..

Beberapa kegiatan di atas tidak sempat didokumentasikan karena kami tidak sadar kamera. Kunjungan terakhir berada di tempat Pak Wiyadi Cobra, seorang master keyboard piano, liukan tangannya bagaikan ular kobra yang sedang memangsa buruannya, kegesitan mengaransemen lagunya bagaikan tarian kobra! Rumah Pak Wiyadi berada pada 15 Km dari puncak merapi, dan di tempat beliau saya hanya  menonton saja karena Pak-e yang berkeperluan dengan beliau. Selanjutnya kami diajak ke sebuah desa yang terkena uap panas berasal dari Kali Gendol karena meluncurlah lahar yang sangat panas dari puncak Merapi melalui Kali Gendol. Desa ini bernama Bronggang (bukan Brogah seperti yang selama ini diberitakan TVSATU!!!). Akses masuk desa ditutup dan dijaga oleh beberapa relawan yang berasal dari desa tersebut. Tetapi, karena kami bersama Pak Cobra, maka kami diperbolehkan masuk, sungguh berjasa sekali kau Pak Cobra.

berikut dokumentasinya

saya

pak-e

dikarenakan kamera rusak lcd-nya maka tanggal yg tercantum dalam foto-foto di atas merupakan tidak benar ehehehe

Iklan

Komentar»

1. si_enthon9 - November 17, 2010

wah ngeri sekali belajarnya.. kok aku tidak dijak to??

wednesmandra - November 17, 2010

mbesok kita belajar bareng tong, njajah deso milang kori dab!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: